oleh

Saatnya CSR Penyedia Layanan Internet Ke Dunia Pendidikan

Oleh: Albahri (Guru DDI Padanglampe)

SUARATIMUR.Com- Saat ini era pandemi covid-19 kian tidak menentu kapan berakhirnya, masyarakat semakin hari semakin terpuruk terutama yang kerja harian lalu kemudian tidak bekerja lagi.

Demikian juga dunia pendidikan, khusunya sekolah semakin tidak menentu proses belajar mereka di ruang kelas kapan dimulai seperti biasanya, kebijakan pemerintah mengharapkan siswa belajar di rumah saja

Belajar di rumah adalah salah satu alternatif yang ditempuh pengelola pendidikan. Belajar online semakin tren, dan yang seperti ini memerlukan paket data ketika melakukan proses pembelajaran tidak seperti belajar di ruang kelas

Saat pandemi ini pengguna paket data internet meningkat tajam dibanding 2019 tahun lalu. Data Kominfo menyebutkan, kenaikan sampai 40% pengguna internet masa pandemi, begitupun data jumlah pengunduh aplikasi yang tren dipergunakan belajar online seperti zoom meeting, skype, google meet, dan lain-lain, semuanya meningkat, apalagi pengguna zoom sampai 183% peningkatannya pengguna di Indonesia (Data Statqo Analytics, 2020)

Oleh karena itu, jasa pelayanan internet Indonesia banyak menawarkan kerjasama terutama ke lembaga pendidikan terutama sekolah untuk pembelian paket bulanan

Akan tetapi kondisi Indonesia yang mempunyai daerah tiga dimensi, tidak seluruhnya daerah yang terpencil dijangkau oleh jaringan. Pernah viral pelajar asal Kab. Sinjai tewas jatuh dari menara Masjid hanya untuk mencari sinyal ketika belajar online (6/5/2020),

Memanjat pohon, ke tengah sawah menyendiri, hanya untuk mencari sinyal yang bagus. Cerita lucu seperti ini banyak dijumpai saat pembelajaran online masa pandemi ini. ISP (Internet Service Provider) seperti Telkomsel, Indosat, XL Axiata, Tri Indonesia, Smartfren, pekerjaan rumah mereka untuk senantiasa memperbaiki kualitas sinyalnya.

Telkomsel sebagai ISP terbesar sekaligus anak perusahaan plat merah dari PT. Telkom di Indonesia lebih 150 juta pengguna tentu menjadi tanggung jawabnya untuk memperbaiki layanan internetnya di seluruh Indonesia. BTS yang dimiliki sudah mumpuni, sampai pelosok desa dan kampung terpencil demi suksesnya proses pembelajaran dan meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia, tentu tidak ingin lagi didengar viral berita kematian hanya karena sebab mencari sinyal.

Bursa Efek Indonesia (BEI) merilis (13/8/2019), pendapatan Telkomsel naik 5,5% pada semester I-2019 menjadi Rp 45,1 triliun dari periode yang sama 2018 yakni Rp 42,7 triliun. Laba bersih Telkomsel juga naik 8,4%. data ini menunjukkan bahwa untung besar didapatkan dari pengguna yang seakan hanya seperti “membeli hantu” tidak ada fisik yang dibeli seperti membeli jalangkote ada barang ada biaya produksi yang jelas, dan memang pantas untuk dihargai.

Membeli paket internet tidak ada lagi barang fisik dibeli seperti 10 tahun yang lalu ada kartu fisik digesek kemudian dimasukkan angka-angkanya, namun sekarang tidak ada yang dibeli bentuk barang tetapi harganya sangat mahal, kekuatan jaringannya pun lelet. Kecepatan Internet Indonesia sangat tidak bagus dan di Asia, Indonesia terkenal paling buncit kecepatan akses internetnya.

Apakah keuntungan besar seperti penulis sebutkan diatas tidak bisa memperbaiki kualitas layanan, terutama masa belajar online ini demi kemajuan pendidikan di Indonesia. Sebagai sumbangsih terbesar, pengabdian kepada anak bangsa, sumber daya manusia.

Ini suara hati bukan hanya istri yang punya akan tetapi semua pengguna internet yang umumnya tinggal di pedalaman. Bayangkan upah setiap bulan seorang dirut penyedia layanan internet ada yang sampai Rp. 400 juta perbulan dengan semua fasilitas yang menyertainya, kira-kira setara gaji guru honorer sebanyak 1500 orang jika seorang guru digaji Rp. 300.000/bulan. Masa pandemi ini tentu dituntut CSR (Corporate Social Responsibility) yang jelas penyedia layanan internet khususnya kepada siswa-siswa sebagai pelanjut generasi yang akan meneruskan cita-cita bangsa Indonesia menuju peradaban maju di dunia ini.

Jika tidak bisa menggratiskan internet untuk siswa, cukup diberi harga yang terjangkau untuk semua kalangan, akses internet pada saat jam belajar seperti jam 08.00 sampai jam 12.00 diperkuat, jika tidak dilakukan seperti itu atau ada cara lain dari para pakar, saya tidak tahu sampai kapan para pengguna internet Indonesia yang hanya “membeli hantu” lalu sadar atau tiba-tiba mereka berubah menjadi hantu juga lalu memporak-porandakan semua BTS-BTS di seluruh Indonesia karena merasa dirugikan, ini mustahil kedengarannya akan tetapi biasa terjadi seperti banyaknya kejadian di negeri +62, semoga tidak

@Ruhbaru77 ALBAHRI

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terbaru