oleh

Lurah Ciracas Libatkan Semua Elemen Masyarakat di Wilayahnya Perangi Covid-19

-Berita, Nasional-19 x dilihat


CIRACAS-SUARATIMUR.com – Dalam memerangi Pandemi Covid-19, kelurahan Ciracas yang terdiri dari 10 RW, 142 RT, dengan beragam komunitas, beragam latar belakang masyarakat, beragam aktivitas dan kegiatan seperti sekolah, pasar, dan daerah-daerah yang masih berbatasan dengan kali Cipinang daerah-daerah yang terbilang kumuh namun sudah tertata memiliki tantangan yang beragam juga.

Kepada media Lurah Ciracas Rikia Marwan Salahudin, M.S.I., menjelaskan bagaimana kiprahnya memerangi Covid-19 yang sudah menjadi musuh dunia.

“Kaitan dengan Covid-19, di awal-awal adanya informasi penyebarannya yakni pada bulan Januari, Pebruari dan Maret 2020, di Ciracas sempat tidak ada masalah, hingga akhirnya pada April 2020 ditemukan 1 kasus yang sebenarnya kasus dari luar,” jelasnya Rabu (17/6/2020).

“Karena ketidaktahuan dan informasi sosialisasi yang masih minim warga masyarakat waktu itu belum mengetahui secara pasti bagaimana Covid itu sendiri,” terang Lurah yang akrab disapa Riki ini.

Ada beberapa kasus di bulan Maret dan April, lanjut Riki, tepatnya di RW 10 ada beberapa orang, sekitar 4 KK terdampak postif dirujuk ke wisma atlet dan keluarganya diisolasi mandiri.

“Penanganan kami waktu itu sesuai Protap maupun di luar Protap adalah mengedukasi masyarakat dengan pemberitahuan baik melalui media sosial, edaran-edaran, ataupun langsung bertemu tatap muka dengan pengurus RT, RW, dan PKK dan semua elemen masyarakat,” beber Riki.

Selain itu Lurah yang selalu peduli dengan permasalahan warganya ini juga membentuk Tim Gugus Covid Tingkat RW yang isinya para ketua RW sebagai ketua LMK, RT sebagai anggota.

“Di sini dibentuk beberapa sub bidang yaitu bidang kesehatan, bidang kemasyarakatan, bidang sosial dan bidang pemerintahan yang mana semua bidang harus difungsikan. Contohnya, di bidang pemerintahan dibuatlah karantina wilayah berdasarkan kesepakatan antara Gugus Covid tingkat RW dengan warga masyarakat sehingga yang mana saja yang akan dikarantina, jalur mana yang akan di tutup dan dibuka dikondisikan dulu, disepakati dulu bersama warga masyarakat,” paparnya.

Dikatakannya, dengan adanya edukasi-edukasi seperti itu warga semakin lama semakin tahu, semakin sadar tentang bahaya Covid-19 atau yang biasa disebut dengan Virus Corona sehingga pembatasan-pembatasan yang telah dibuat itu dilaksanakan oleh warga masyarakat termasuk jaga jarak, pemakaian masker, dan juga PHBS (Pola Hidup Bersih Sehat) dengan mencuci tangan, menyediakan sarana cuci tangan di setiap rumah.

“Saya wajibkan di setiap rumah untuk menyediakan tempat atau alat cuci tangan, agar setiap warga bisa mencuci tangannya dulu sebelum masuk ke rumah,” tegasnya.

Riki menilai, semakin berjalannya waktu dan semakin meningkatnya kasus di kelurahan Ciracas kesadaran masyarakat pun semakin mengalami peningkatan sehingga angka penyebaran Covid-19 semakin flat, artinya tidak ada lagi penambahan kasus dan juga yang tadinya dianggap zona merah sudah berangsur-angsur berubah menjadi zona kuning bahkan menjadi Zona hijau.

“Sampai saat ini pun kelurahan Ciracas sudah memasuki zona hijau. Hanya beberapa kasus tersisa di 2 RW, itupun hanya 1 kasus yang sekarang sudah memasuki tahap Swab ke-3, dari hasil swab 1 dan 2nya negatife,” tandasnya.

Untuk antispasi selanjutnya agar tidak ada lagi cluster baru di wilayah yang berada dalam pemerintahan Kotip Jakarta Timur ini, Lurah Riki sekarang fokus di pasar Ciracas karena menurutnya di situ mobilitas warga masyarakat sangat tinggi sekali karena pasar rakyat sehinga semua bertumpuk di situ.

“Saat ini kami berkonsentrasi di pasar Ciracas, himbauan PSBB semua kami laksanakan demikian pula dengan protap kesehatan, kami turunkan lagi Pergub 561 dan 563 tentang adanya sanksi denda atau sanksi sosial kepada warga masyararakat yang tidak memakai masker. Sanksi dendanya adalah 250 ribu sedang sanksi sosialnya adalah mempekerjakan pelanggar menyapu jalanan selama beberapa menit, tujuannya adalah untuk memberikan efek jera kepada warga masyarakat,” katanya.

Meski saat ini penanganan terkonsentrasi di pasar ciracas, Tim Gugus Tugas Covid yang dibentuk di semua RW pun tetap masih bekerja secara maksimal karena tidak diketahui sampai berapa lama wabah ini akan tetap ada.

Yang terpenting edukasi ke masyarakat tetap berjalan untuk menjamin tingkat kesadaran masyarakat di kelurahan Ciracas yang sampai saat ini sudah membaik tetap terjaga.

Selain itu Kelurahan juga sudah membentuk Posko-posko kesehatan yang dibuat selain atas inisiatif warga juga dari pemerintah yang didukung partisipasi dari ketua RW, RT dan LMK RT.

Kegiatan nyata yang dilakukan adalah membuka dapur umum di wilyah RW masing-masing sebagai antisipasi dampak dari Covid ini yang sebenarnya tidak hanya berdampak pada kesehatan saja tetapi berdampak pula pada perekonomian terutama kalangan menengah ke bawah, yakni warga masyarakat yang di PHK-kan atau dirumahkan, sehingga tidak lagi bekerja yang secara langsung menurun pendapannya.

“Berkat bantuan dari pemerintah baik berupa Bansos, Masker dan lain-lain, yang didukung dengan kesadaran warga masyarakat yang tinggi tentang bahaya dari Covid-19 ini, Insya Allah kita pasti bisa bersama mencegah penyebaran Covid-19 atau Virus Corona ini,” tutupnya.

(Amrul/Frans tutul)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terbaru