oleh

Kisah Jawariah dan Anaknya Yang Bertahan Hidup di Gubuk Reot

-Berita, Sosial, Sulsel-106 x dilihat

MAROS-SUARATIMUR.Com- Jalan setapak ber-alaskan tanah dan Paving Blok menjadi akses satu-satunya bagi Jawariah (78) dan anaknya yang bernama Saeni (60), menuju ke permukiman warga terdekat

Nenek tua renta dan anaknya yang mengidap keterbelakangan mental itu, sudah puluhan tahun menghuni gubuk  yang jauh dari kata layak untuk ditinggali diatas tanah salah satu warga di Lingkungan Langkeang, Barae, RT. 03 RW. O2. Kelurahan Mattiro Deceng, Kecamatan Lau, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan

Gubuk yang ditinggali Jawariah ini, hanya seukuran 3 meter x 6 meter. Tingginya pun hanya berkisar tiga meter. Di bangunan itulah menjadi satu-satunya tempat Jawariah dan anaknya, berteduh sekaligus meluruskan punggungnya pada malam hari.

Selama puluhan tahun, tak sekalipun ada bantuan resmi dari pemerintah yang menyentuhnya. Jangankan kartu-kartu sakti macam KIS atau BPJS, bantuan sosial seperti Bantuan Sosial Tunai (BST) dan Bantuan Langsung Tunai (BLT) tak pernah dia dapat

Selama ini, bantuan yang datang sifatnya baru dari perseorangan. Untuk hidup sehari-hari Jawariah hanya mengandalkan Saeni (anaknya) yang mengidap keterbelakangan mental tersebut, yang bekerja serabutan

Lokasi tempat tinggalnya yang masih dikelilingi semak belukar juga menjadi tantangan tersendiri bagi Jawariah

Kini Jawariah mulai lega untuk satu minggu kedepan, berkat uluran tangan DPD Aliansi Pemantau Kinerja Aparatur Negara Republik Indonesia (APKAN RI) Maros dan Lurah Mattiro Deceng, yang memberi sembako dan sedikit uang tunai, di saksikan Babhinkamtibmas Kelurahan Mattiro Deceng, Aiptu Muh. Makdis, Ketua RW, RT, dan Perangkat Lurah Mattiro Deceng.

(Aa)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terbaru