oleh

FPI Sulsel Mengecam Keras Kelompok Persekusi Terhadap Rombongan DPP FPI Di Bandara Tarakan

SUARATIMUR-MAKASSAR. Kelompok anarkis, intoleran dan anti Kebhinnekaan kembali membuat ulah di negeri Indonesia tercinta ini.

Pagi ini, Hari Sabtu tanggal 14 Juli 2018 pagi, Sekelompok Preman yang mayoritasnya adalah orang non Muslim melakukan penghadangan dan persekusi terhadap rombongan pengurus FPI yang tiba di Bandara Tarakan, Kalimantan Utara.

Massa preman non muslim nampak begitu beringas dan seperti lupa bahwa di Kalimantan Utara umat Islam adalah Mayoritas dengan jumlah 65,75 Persen, sementara pemeluk Kristen Protestan hanya 25,17 Persen dan Katolik lebih sedikit lagi hanya 7,60 Persen.

Massa perusuh nampak begitu bebas masuk ke area Bandara dan itu semua dibiarkan oleh aparat se olah olah pemerintah tak ada lagi, ataukah mereka menndesain agar kezholiman yang mereka lakukan itu se olah olah di benarkan.

Kronologis yang sementara kami dapatkan, Sementara umat Islam yang bersiap menjemput rombongan FPI dihadang, dilarang masuk ke area Bandara oleh aparat.

Aparat dengan sepihak kemudian memutuskan memulangkan Waketum DPP FPI KH Ja’far Shiddiq bersama rombongan ke Jakarta tanpa mendiskusikan sama sekali dengan pihak FPI Kalimantan Utara.

Padahal sekitar 6 bulan lalu Waketum FPI bersama Habib Hanif Alatas datang ke Berau yang bersebelahan dengan Tarakan untuk menghadiri Tabligh Akbar dan pelantikan FPI disana, dan acara tersebut berjalan lancar dihadiri ribuan umat Islam Berau dan tidak mendapat gangguan sama sekali.

Untuk itu Front Pembela Islam Sulawesi Selatan mengecam keras tindakan oknum aparat di bandara Tarakan dan Para Peresekusi dari non muslim yang hanya berjumlah 30 an yang telah mengoyak kebhinekaan dan melabrak Undang Undang Dasar 1945 Pasal 28 E ayat 3 menyatakan, ” Setiap Orang berhak atas kebebasan, berserikat, berkumpul dan.mengeluarkan pendapat, ” ini cikal bakal pemicu biang kerok anti toleran dalam menghadapi tahun tahun Politik 2018 – 2019, *tidak Pancasilais, memantik Disintegrasi Bangsa, merobek semboyan Bhineka Tunggal Ika* Seharusnya dan seyogyanya Pemerintah tidak kehilangan wibawa hukum dengan hanya sekelompok yang berjumlah 30 an Pereksekusi yang demo di bandara tarakan yang merupakan obyek vital untuk hal hal demonstrasi apa lagi ada Surat Edaran Menteri Nomor 15 Tahun 2017 yang dikeluarkan oelh Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi. Ini mencoreng Bangsa Indonesia di mata negara luat negeri, kata Imam Daerah FPI SULSEL Habieb Faisal Alhabsyi, yang telah di sahkan menjadi Imam Daerah FPI Sulsel di bulan Ramadhan yang di tanda tangani Oleh Habieb Rizieq Syihab yang juga Imam Besar FPI Indonesia.

Untuk itu Himbauan, ” Kepada Pemerintah Indonesia agar segera tangkap dan proses hukum 30 an Pereksekusi Anti toleran dari non muslim di bandara Tarakan, apa bila ada pembiaran sangat berbahaya kelangsungan NKRI se utuh nya”, Ucap Imam Daerah Habieb Faisal Didampingi Habieb Muhsin dan Ustad Agussalim, Jubir FPI dan FUIB, Muhammad Abduh Rachman. (Fer)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed