oleh

Romantis.. Tradisi Mencari Jodoh di Tanjung Langgudu Bima

-Wisata-15 views
Tanjung Langgudu, Bima, Provinsi NTB (Foto : Fendi)

SUARATIMUR,BIMA — Sudah keliling cari jodoh dan belum dapat-dapat juga? Tenang saja, cobalah jalan-jalan ke Tanjung Langgudu yang oleh masyarkat setempat disebut Tanjung Jodoh di Kabupaten Bima, Provinsi Nusa Tenggara Barat.

Pemandangan di Tanjung Langgudu yang berada di seberang teluk Waworada, Bima memang indah mempesona. Untuk sampai ke tempat nan eksotik ini memang tidak mudah, perjalanan dengan menggunakan perahu motor menuju ke tanjung jodoh ini memakan waktu sekitar tiga jam dari dermaga Desa Rompo, Kecamatan Langgudu. Tanjung ini juga bisa ditempuh dengan berjalan kaki sepanjang 12 kilometer dari desa Karampi atau Sarae Ruma.

Lalu apa hubunganya dengan jodoh? Kenapa disebut Tanjung Jodoh.

Konon, pada masa lalu tanjung ini memiliki kenangan sejarah bagi warga Langgudu dan sekitarnya. Di tanjung inilah, muda mudi Langgudu pada masa lalu mendapatkan jodoh.

Dulu, ada satu tradisi yang hidup di tanjung ini yaitu tradisi Olo. Tradisi ini adalah tradisi berpantun dan bersyair di antara muda mudi yang dilaksanakan pada setiap bulan purnama ke-14 hingga ke -15 setelah panen. Romantis kan?

Saat itulah, muda mudi Langgudu dan sekitarnya berbondong-bondong menuju Tanjung Langgudu. Mereka membawa perbekalan dan perangkat untuk menginap. Di bukit-bukit kecil di Tanjung Langgudu, mereka berpantun dan bersyair sambil memukul kentungan dari bambu atau yang dikenal dengan Katongga O’
Kesenian Olo hidup bersama Keindahan Teluk Waworada.

Kesenian olo adalah tradisi berbalas pantun. Ada 4 nada dan jenis pukulan yang dimainkan dengan memukul Kentongan yaitu Danda Wawo, Karete, kadodi, Tonji Tauwaga. dan Lampa Karumbu. Olo secara harfiah berarti mencabut atau melepaskan. Jadi Olo adalah melepas masa lajang.

Selepas Olo biasanya muda mudi Langgudu melapor kepada aya bundanya bahwa mereka sudah bertemu jodoh di Tanjung Langgudu. Olo merupakan acara pesta panen.

Olo akhir-akhir ini mengalami stagnan. Sayangnya, saat ini kesenian Olo ini mulai tidak diminati oleh generasi muda.

”Generasi muda kurang tertarik mempelajari dan menekuni kesenian ini. Mereka hanya jadi penonton ketika setiap pagelaran kesenian Olo digelar. Mereka tidak tertarik untuk mempelajarinya.” Ungkap Mas Imo, salah seorang ibu asal Desa Karampi. Perlu terus proses regenerasi kesenian Olo sebagai warisan budaya teluk Waworada. (Kontributor Bima : Fend)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed