oleh

KISAH LELAKI “PEMBURU 1000 JANDA” DARI DEPOK

​SUARATIMUR-Jakarta. Sebelum membaca kisah pemburu janda ini,  terbayang difikiran kita hal ngeress,  konotasi negatif, dan waww, tapi dalam kisah sosok yang sukses dalam bisnis ini  kita dapat memgambil ibrah tentang hal yang kita mungkin sepelekan,. Namanya Roel Mustafa, warga Beji, Depok Jawa Barat, sejak satu tahun terakhir mencari para janda tua untuk disantuni. Ya, “jangan hanya wanita muda yang di perhatikan,” katanya.

Inilah sekelumit kisah dari penggagas kegiatan yang disebut “lelaki 1000 janda” , sebuah program yang terinspirasi dari kepedulian mendiang ibunya rahimahallah, yang juga seorang single parent semasa hidupnya.

“Biasanya ibu-ibu punya teman sebaya, punya teman ngaji, teman ngobrol yang seusia, yang janda juga. Mereka tinggal sendirian. Ibu saya kalau masak selalu dilebihkan,untuk teman-temannya. Saya sebagai anak jadi kurir, antar makanan dan terus berlanjut setiap hari, sampai ibu saya meninggal,” kata pria yang akrab disapa Roel ini mengawali kisahnya saat ditemui di Sekolah Relawan, Beji Depok, tempat dia beraktifitas.

Lama-kelamaan, lanjutnya ia pun semakin menyadari pentingnya kegiatan tersebut, “Kenapa tidak diteruskan? akhirnya saya berinisiatif untuk melanjutkan walaupun bukan dalam bentuk makanan tetapi dalam bentuk sembako, saya titip ke adik saya , tolong teman-teman ibu setiap bulan dikasi sembako, uangnya saya yang kasih,” ujarnya.

Tak hanya di sekitar tempat tinggalnya, Roel juga mencoba mendistribusikan bantuannya hingga ke pelosok-pelosok desa yang mampu dia jangkau.

“Ternyata banyak janda tua yang masalahnya sama, kami lalu bahas mana yang bisa dibantu. Kami bantu sembako,” ungkapnya.

Kemudian dibantu adiknya, mereka pun meneruskan kegiatan sosial membagikan makanan dan mencoba mendokumentasikannya.

“Kalau melihat foto dan video itu, saya jadi bahagia,” ujar pria berlatar manager di sebuah perusahaan multinasional ini.

Setiap melakukan aktivitas itu, lanjutnya momen-momen tersebut  diabadikan di media sosial dan dibuat semacam cerita, tentang mereka, kisah hidupnya, keluhannya, kondisinya.

“Dari situ banyak teman-teman di medsos tertarik untuk ikut membantu, titip sedekah, titip infak. Akhirnya semakin banyak yang titip, dan saya semakin semangat nyari janda,” ungkap Roel.

“Semakin ke sini ternyata masalah janda-janda ini bertambah, ada juga yang kelilit utang bank keliling , ada juga yang sakit, butuh pendampingan dan diantar ke rumah sakit untuk berobat. Ada juga yang rumahnya miring, ini bisa kami renovasi,” ujar pendiri Sekolah Relawan ini.

“Kami punya relawan lokal, mereka biasa menghubungi kami, kami pun bantu urus segala persuratan yang dibutuhkan oleh lansia seperti BPJS, kami jemput dan antar ke Puskesmas atau rumah sakit,” lanjutnya.

Menurut pengakuannya, kurang lebih 300 janda  yang ditangani dalam program yang  sudah berjalan selama setahun ini.

Menjawab pertanyaan soal harapannya ke depan, pria satu istri dan satu anak ini menyebut  program lelaki 1.000 janda tersebut sebagai sebuah penghormatan terhadap wanita.

“Jangan hanya wanita muda yang di perhatikan. Mungkin banyak anak yang khilaf menelantarkan ibunya, malah lebih perhatian kepada pasangan hidupnya, ayo kita balik lagi perhatikan ibu kita, jangan sampai kita menyesal ketika ibu kita sudah tidak ada nanti,” pungkasnya. 

Untuk teman-teman yang membaca kisah ini mari kita memburu janda yang butuh santunan, butuh kasih sayang.(Ac).

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed